Skip to main content

Lentera Hati #2 (Bisakah...?)

BISAKAH

Bangkit dari Keterpurukan?

(٢٠٢٤/ ٨ /١٧) أستاذة نبيلة

        Miniatur kehidupan kita pernah dilalui oleh Rasulallah ﷺ supaya kita bisa mengatasi masalah-masalah kehidupan. Perasaan kita saat ini sudah pernah dirasakan oleh Rasulallah ﷺ sebelumnya. Kalau kita pernah merasa hidup kita susah, sempit, gelisah, sedih, sakit, bahagia, Rasulallah ﷺ pernah mengalami semua itu. Rasulallah ﷺ paham perasaanmu, karena beliau ﷺ pernah merasakannya. 

     Ada satu peristiwa dimana wahyu tidak turun dalam waktu cukup lama. Sampai Rasulallah ﷺ bolak balik naik turun bukit. Kondisi tersebut dilihat oleh kafir Quraisy dan mereka mengatakan perkataan yang menambah kegundahan dan kesedihan hati Rasulallah ﷺ, ada salah satu dari kafir quraisy yang menyeletuk, inti perkataannya mencemooh “Lihatlah Muhammad, dia sudah gila”. Kalau kita pernah dituduh ngga bener sama seseorang, Nabi ﷺ pun juga pernah merasakan di posisi seperti itu. Tetapi, meskipun difitnah, dicaci, dimusuhi oleh kafir Quraisy, Nabi ﷺ tetap sabar, tidak membalas mereka sama sekali. Setelah kejadian itu, Nabi ﷺ menerima wahyu kembali, yaitu surat Adh-Dhuha. Ketika di-syarah-kan, seakan-akan di surah itu, Allah mengatakan "Nanti akan Aku tunjukan padamu (Muhammad) balasannya setelah kamu tabah menerima cobaan tersebut" Maksudnya balasan atas kesabaran dan ketabahan terhadap perbuatan kafir Quraisy akan dibalas di akhirat.
      
      Begitu juga kita, jika kita sabar, pasti ada balasannya di akhirat. Dunia ini tempat untuk beramal dan akhirat tempat pembalasan. Istirahatnya kita dari beramal yakni nanti di akhirat. Amalan sekecil apapun yang kita lakukan di dunia pasti akan dicatat, pasti akan ada balasannya. Pun demikian ketika kita melanggar syariatnya Allah, pasti akan ada balasannya juga. 

"Lakukanlah apapun yang kalian inginkan, maka seperti itulah kalian akan dibalas"

Disebutkan dalam sebuah hadits:
من يرد الله به خيرا يصب منه 
“Barangsiapa yang allah menginginkan kebaikan pada orang tersebut, maka Allah akan mengujinya"

Namun, perlu dingat dalam Al-Qur'an surah Al-Insyirah diulang 2x,

 فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ, اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ

      Kalau kalian pengin dapat kemudahan, lewati dulu kesusahannya. Karena kemudahan dan kesulitan itu satu paket. Pasti kemudahan lebih besar daripada kerugian atau kesulitan. Kerugian ibarat DP dulu di awal. Setelah DP-nya selesai bakal dikasih sesuatu kejutan yang menyenangkan dan membahagiakan diri kita. Awalnya, kita harus sabar dulu menerima ujian Allah. Sabar dan iman itu berbanding lurus. Iman adalah at-Tashdiq, bisa diartikan sebagai percaya dan yakin. Yakin bahwasanya setelah diuji oleh Allah pasti akan diberikan hadiah dan kejutan yang indah. Namun, misalnya kita ngga yakin, yang ada hanyalah mengeluh dan menyerah

        Kunci utamanya libatkan Allah. Kenapa hal ini penting? Karena sebetulnya manusia tidak bisa hidup dengan dirinya sendiri. Seperti yang kita sering dengar, manusia adalah makhluk sosial. Makhluk yang lemah dan selalu ketergantungan (bergantung) pada yang lain. Kebanyakan manusia merugi karena ulahnya sendiri, kecuali orang-orang yang beriman dan taat pada Allah.
              
              Orang yang tidak melibatkan Allah dan hanya melibatkan dirinya sendiri, dia akan mengeluh dan berputus asa ketika mendapatkan masalah. Berbeda dengan orang yang melibatkan Allah, dia akan sabar ketika diberi musibah dan bersyukur ketika diberi kenikmatan. Menghadirkan sabar dan syukur di setiap keadaan, begitulah hakikat sebuah kebahagiaan 😊

        Dalam hadits qudsi, disebutkan:
أَناَ عِندَ ظَنِّ عَبْدِي بِي
"Aku (Allah) sesuai prasangka hamba-Ku pada-Ku" 

        Sekarang, kita mau memprasangkai Allah seperti apa? Kita harus berprasangka baik pada Allah. Di balik ujian yang diberikan, pasti ada hikmahnya. Suatu saat kita bakal "Oh ini maksudnya Allah". Kita jangan lihat bagaimana ujiannya, tapi lihat bagaimana setelahnya, bagaimana pesan-pesan Allah yang di sisipkan di baliknya.

       Tanda kita selalu bersama Allah bisa diketahui misalnya lagi ruwet secara tidak disadari muncul jalan keluar sendiri. Ada aja jalannya. Solusi-solusi seperti itu bisa jadi berasal dari Allah melalui perantara malaikat yang membantu menuntun kita.

         Orang yang mendapat masalah, ujian cobaan, dan dia ingat Allah, akan berbeda dengan orang yang tidak mengingat Allah. Orang yang ingat Allah, mereka akan tetap tenang hatinya, adem, dingin. Sedangkan yang tidak mengingat  Allah, dia larinya condong kepada hal-hal yang menjauhkan dirinya dari Allah.

Wallahu a'lam bishowab.


Comments

Popular posts from this blog

Social Media and Human Behaviour

  Social Media and Human Behaviour "Eksperimen  Tone Story " Rasa penasaran pada suatu teori membuatku mencoba menganalisis dengan semacam eksperimen sederhana. Memainkan ' Tone  Story ’ yang pernah kubuat berbulan-bulan terakhir. Mulai dari  tone  sedih,  happy, reminder , isu² khilafiyyah pada perkara furu'iyah, atau pencapaian (meskipun seringnya aku hapus lagi). Kebetulan bahan  story -nya ada dan mendukung, jadi aku lanjutin aja deh. Fokusnya di sini aku cuma ingin mempelajari 'respon' orang-orang. Sama sekali bukan ranah 'kuantitas'  viewers story -nya, yang sering dibilang kalau orang liat  story  di  skip ².  So, please read until the end before you judge  👼 Ketika posting yang  happy-happy, daily life aesthetic,  atau cuma  quotes reminder  yang bagus dikit, kebanyakan mentok di  reaction love.  Begitu masuk ke  tone  sedih sama pencapaian responnya benar-benar ' distinc...

Lentera Hati #8 Ada Waktunya (1)

 ADA WAKTUNYA (1) Edisi Jodoh Semua hal di dunia ini sudah diatur Allah Swt. sesuai dengan porsi dan takarannya masing-masing. Kapan waktu dikasihnya pun sudah dicatat detail sama Allah Swt. jadi, kalau memang belum saatnya dikasih tidak akan dikasih sama Allah Swt. Setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya . Kehilangan itu pasti ada dan akan terjadi dunia ini. Namun, seiring berjalannya masa, kita akan merasa lelah dengan urusan dunia. Ada saatnya kita merasakan titik jenuh. Misal,   “Hari-hari berangkat ke kampus, sampai sore di kampus terus pulang, besoknya diulang lagi”.  Jika sudah sampai merasakan kejenuhan itu, tandanya kita sudah memahami bahwasanya dunia itu melalaikan dan semuanya nanti akan dimintai pertanggungjawabannya.  Sering kita dengar,  “ Sabar yaa pasti ada waktunya. ”  Kalau ngga sabar, kita mau apa lagi? Selain,  "Nunggu waktunya dengan sabar , karena nantinya akan merasakan sesuatu indah pada waktunya ."   Dipute...

Lentera Hati #3 (Yaa Rasulallah...)

  YAA RASULALLAH... Terimalah Kami Umatmu (٢٠٢٤/ ٩ /١ ٨ ) أستاذة زبيدة Alhamdulillah... Kita bersyukur kepada Allah Swt. karena telah menjadikan kita sebagian dari umatnya Rasulallah ﷺ dan kita wajib 'membayar' hal tersebut dengan cara mencintai Nabi ﷺ.  Cinta kepada Nabi ﷺ itu yang bener bagaimana sih? Apakah dengan mengatakan, "Wahai Rasulallah ( ﷺ ) aku cinta sama Engkau"  Tapi kita ngga mengamalkan sunnah, ngga mengamalkan apa-apa yang dilakukan Nabi ﷺ. Apakah itu termasuk cinta kepada Nabi ﷺ? Bukan! Cinta itu ketika menghadirkan Nabi ﷺ dalam setiap langkah kita, menghidupkan sunnah-sunnah Nabi ﷺ, bersemangat menghadiri majelis ilmu. Cinta itu memiliki kaitan dengan keimanan, الـحُبُّ هُوَ الإِيمَانُ Kalau kita beriman, maka kita harus cinta dan kalau kita cinta berarti kita harus beriman pada  Nabi ﷺ. ==============================================================