Social Media and Human Behaviour
"Eksperimen Tone Story"
Rasa penasaran pada suatu teori membuatku mencoba menganalisis dengan semacam eksperimen sederhana. Memainkan 'Tone Story’ yang pernah kubuat berbulan-bulan terakhir. Mulai dari tone sedih, happy, reminder, isu² khilafiyyah pada perkara furu'iyah, atau pencapaian (meskipun seringnya aku hapus lagi). Kebetulan bahan story-nya ada dan mendukung, jadi aku lanjutin aja deh. Fokusnya di sini aku cuma ingin mempelajari 'respon' orang-orang. Sama sekali bukan ranah 'kuantitas' viewers story-nya, yang sering dibilang kalau orang liat story di skip². So, please read until the end before you judge 👼
Ketika posting yang happy-happy, daily life aesthetic, atau cuma quotes reminder yang bagus dikit, kebanyakan mentok di reaction love. Begitu masuk ke tone sedih sama pencapaian responnya benar-benar 'distinct', berbeda jauh, dan di sini bisa diambil "ibroh"-nya.
Saat meng-upload story sedih, misalnya:
- Tumpukan obat yang begitu banyak
- Foto suasana RS, ICU, makam, selang infus
- SS chat orang yang lagi ngga baik sama aku
Jangan harap semua orang kasih reaction 💪🏼✊🏼 atau positive affirmation words. Ada sih yang ngasih semangat, tapi bisa dihitung jari. Kebanyakan responnya justru pertanyaan interogatif untuk menggali informasi 'kesedihan' lebih dalam,
- "Kamu punya penyakit apa"
- "Itu yang di ICU siapa"
- "Meninggalnya karena apa?"
- "Makamnya siapa itu?, full topping kaya tumpeng"
- "Siapa? aku juga ada nih 2 orang yang anomali"
- "Lagi ngapain di RS?"
Setelah dijawab, memang ada yang menunjukkan respon baik. Entah emot², stiker, didoakan, atau sekadar kata² positif. Namun, banyak juga yang setelah dijawab, udah ditinggal begitu aja, ngga ada balasan lagi. Ada juga yang cuman bilang semacam "oalah, sabar ya" dan orangnya di bubble chat selanjutnya masih bisa "wkwk, hahaha" dkk.
Mereka-mereka ini kalau katanya Megan Bald istilahnya "Digital Rubbernecker". Rubbernecker kan orang yang sengaja melambatkan motor pas ada kecelakaan cuma buat liat 'darah' atau kerusakannya. Para penonton story ini juga punya dorongan melihat hal-hal 'tragis' atau di luar kebiasaan di medsos, cuma pengen memuaskan rasa ingin taunya aja. Tanya-tanya, kejawab, ya udah lanjut scrolling lagi. Empati yang muncul setelah penasarannya terpenuhi biasanya "Pseudo-Emphaty", alias empati palsu. Basa-basi aja biar ngga dikira cuek-cuek banget.
Hal yang bikin mikir adalah pas nemu respon yang 'nyentil' secara ngga langsung, mengarah ke "jangan cari validasi orang lain dong" atau "kamu pick me ya". Ngga menutup kemungkinan ada yang meng-hide story-ku dari dia dan story dia dari aku, di-unsave, bahkan diblokir juga bisa, hwhw 🙊
Secara psikologis, labelling yang udah mulai menjamur ini berkaitan dengan fenomena "Need for Distinction". Orang akan menganggap kita secara sengaja menunjukkan kesedihan untuk keliatan "Si Paling" menderita atau pengen banyak yang ngasih perhatian. Padahal yaa, ngga semuanya begitu, lho. Ada yang pas lagi lowbat-eh bukan, down maksudnya, dia beneran butuh validasi eksternal buat nyemangatin dia. Caranya aja yang beda-beda, mungkin karena seseorang itu ngga punya 'rumah' tempat pulang, dia ngga ada pilihan lain selain oversharing di medsos 😿
Tapi ya itulah medsos, kejujuran soal kesedihan kadang disalah artikan jadi strategi cari panggung.
Nah, kalau ganti tone-nya ke arah pencapaian (award, lolos sesuatu) yang awal tujuanya untuk motivasi atau branding. Respon yang muncul polanya mirip, pertanyaan interogasi dulu baru kemudian ucapan apresiasi. "Itu lolos seleksi apa?", "kamu lomba di mana", "Tips produktif dong kak?", "mau awetan karyanya ada?".
Bahkan hal sesederhana sharing daily life yang mungkin agak "wah" kali ya, misal naik pesawat, naik kereta juga iya, destinasi kota mana (meskipun b aja gasi itu 😌), ada aja responnya pemirsa. Misal, dia ngga sengaja tau aku naik Gaya Baru Malam Selatan di hari biasa (bukan musim liburan). Selang beberapa hari, posting tiket Taksaka entah mau kemana. Gitu intinya. Beneran ada yang begitu gess (orangnya udah ku un-save).
Modelan yang seperti ini berkaitan banget sama teori Social Comparison (Festinger, 1954), dimana info tentang keberhasilanmu dijadikan barometer untuk mengukur posisi hidup mereka sendiri. Mereka bakal konfirmasi hal² berbau pencapaian atau yang "wah" dikit yang nampak dari kamu buat dibandingkan sama hidup mereka sendiri. Dari sini akan mulai muncul FOMO (Fear of Missing Out), perasaan takut tertinggal dan mendorong rasa selalu ingin tau supaya dia ngga ketinggalan.
Mungkin dari tadi kamu bertanya-tanya "ngga perlu se berbulan-bulan ini juga tau lah kaya gitu bakal dikepoin, dapet label macem², kok masih di-posting".
Bener kok, memang iya demikian. Jawabannya adalah karena aku juga butuh External Co-Regulation. Saat sistem saraf lagi dysregulated (kacau/stres), secara instingtif akan mencari sosok yang tenang untuk menyeimbangkan kembali kekacauan tadi. Nah, kalau share ke satu orang aja pas lagi kacau doang juga ngga baik karena jika orangnya bukan profesional di bidang psikologis, efeknya bakal buruk buat kedua belah pihak. Posting itu ibaratnya Social Signaling, sinyal 'minta tolong' paling dasar. Bagi aku kalau masalahnya yang pribadi banget, postingnya di close friend, share ke orang yang udah tau masalahku sebelumnya. Nah, yang aku analisis ini memang Tone Sedih tapi masalahnya general seperti orang meninggal, orang sakit.
Posting (mengunggah sesuatu, meski dihapus lagi) kalau menurut teori Catharsis itu salah satu bentuk melepaskan emosi. Jadi ini bukan playing victim atau manipulatif ya, murni respon saraf untuk bertahan supaya ngga collapse. Aku cuman butuh satu dua orang yang sadar dengan sinyalnya, di tengah ribuan Digital Rubberneckers 👼
"IBROH"-NYA..
Tamparan lembut buat aku setelah belajar dari pola-pola unik manusia ini. Kadang, saking pengennya didengar, kita lupa kalau mata orang yang melihat (baik karena iri, kepo, atau julid) itu punya pengaruh nyata buat kedamaian. Sebagai muslim, kita diajarkan menjaga Muru'ah (kehormatan diri). Ngga semua luka harus dipamerin, dan ngga semua sukses harus di-publish. Kita diingatkan untuk ngga jadi budak validasi manusia, karena sebaik-baiknya tempat bersandar hanyalah Allah Swt. Bentuk tertinggi dari rasa syukur adalah melindungi yang berharga dalam hidup dengan mem-filter apa yang akan kita share.
Berkata Ibnu Jauzi رحمه الله
✿ قال ابن الجوزي -رحمه الله ✿
اعلم أنَّ ترك النّظر إلى الخلق، ومحو الجاه من قلوبهم بالتعامل، وإخلاص القصد، وستر الحال، هو الذي رفع مَن رفع .
📗 صيد الخاطر (٢٤٢)
Meninggalkan (keinginan untuk) dipandang manusia (mencari ketenaran), menghapus ambisi (kedudukan) di hati dengan cara beramal (hanya karena Allah) dan mengikhlaskan niat, menyembunyikan apa yang ada sekarang (amal kebaikan). Hal-hal itulah yang dapat meninggikan derajat seseorang.
Comments
Post a Comment